» » Pengrajin Cingcau Di Purwakarta Banting Stir Produksi Agar-Agar


PURWAKARTA. Pengrajin cingcau asal Purwakarta banting stir jadi memproduksi Agar agar dan sekoteng. Ramadhan tahun ini, bahan baku cingcau mengalami lonjakan 6 kali lipat.

Zaenudin pengrajin Cingcau yang banting stir menjadi pengrajin sakoteng dan agar agar warga kampung Rawa Roko, Kelurahan Tegalmunjul, Kabupaten Purwakarta, menyebutkan, Ramadhan tahun ini ia berganti produksi dari cingcau ke sekoteng dan agar agar.

"Sulit adaptasi harga, untuk menjual cincau jadi, karena bahan bakunya naik hingga enam kali lipat, yang biasanya 7 Ribu per kilogram kini mencapai 40 Ribu Rupiah per kilogramnya," ujarnya, selasa (22/5).

Menurutnya, bahan baku cincau, berupa dedaunan yang sudah dikeringkan dikirim dari Bogor, ke sejumlah pengrajin cincau di Purwakarta tapi sejak harganya naik tajam, tak ada lagi pengiriman bahan baku cincau dari Bogor.

Meski tak lagi jualan cingcau, Zaenudin tetap mengolah penganan berbuka puasa berupa Agar agar dan Sekoteng.

"Karena, cara memproduksi cincau dengan Agar agar dan Sekoteng hampir sama. Baik cincau maupun agar-agar atau sekoteng, butuh penggodokan bahan baku dengan air panas. Yang membedakan cincau berbahan baku daun cincau, sementara agar agar, dari rumput laut, dan sekoteng dari sagu," ujar Zaenudin.

Untuk pemasaran dan jumlah pekerja, lanjut dia, membuat produksi agar agar dan sekoteng ini, masih tetap mempekerjakan anak-anak dan menantu, serta anggota keluarga. Usaha rumahan itu telah digelutinya sejak 10 tahun lalu itu, sebagai keluarga pedagang cincau, meski tahun ini, terpaksa ganti produksi.

"Untuk penjualan agar agar dan cincau, saya masih menggunakan jaringan pedagang lama, yang sebelumnya menjadi langganan produksi cincau yang saya produksi, seperti di Pasar Leuwi Panjang, Pasar Plered, Wanayasa dan Bojong," katanya

Dari pasar pasar tersebut, lanjut dia, juga di pasarkan ke warung warung kecil di perkampungan. Ciri khas cincau atau agar agar, untuk menu berbuka ini, memilki varian warna, seperti merah, hijau, kuning dan orange.

"Yah, meski cincau saya ganti dengan produksi agar agar dan sekoteng, usaha ini tetap jalan terus." pungkasnya. (DeR)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: