» » » » Sidang Kedua Hadirkan Para Saksi, Kasus OTT Oknum Wartawan Dan LSM


PEMALANG - Sidang kedua untuk kasus OTT yang dilakukan oleh 5 (lima) orang yang mengaku dari, oknum, wartawan dan LSM, digelar pada hari Selasa di Kantor Kejaksaan Negeri Pemalang (05/03). Pada sidang kali ini dihadiri oleh pihak keluarga, kerabat dan juga dari kalangan wartawan dan LSM. Lima pelaku tersebut sebagai terdakwa adalah Sunardi (48) Tegal, Sutrisno (46) Pemalang, Riyanto (39) Brebes, Nawang Elin (43) Tegal dan Aris Hadi (36) Brebes.

Pada sidang ini hanya berkisar pada pernyataan saksi-saksi yang menjadi korban pemerasan tersebut, 5 orang kepala sekolah.

Saksi, Kepala Sekolah SMK 1, Randudongkal menyampaikan bahwa berawal dari sehari sebelum kejadian, mendapat pesan WA (Whattsapp) oleh tim Sunardi CS, yang isinya adalah ingin mengklarifikasi terkait masalah dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diduga ada penyelewengan dan akan dilaporkan ke Polres.

“Saya tidak bisa ketemu hari ini Pak, karena hari Selasa ini Saya ada rapat, besok saja ketemuannya”, jawab Kepsek kepada pengirim pesan. Sebenarnya Saya sendiri tidak berkenan untuk bertemu untuk memberikan sejumlah uang seperti apa yang diminta oleh tim Sunardi CS.

Paginya SMS ke Sunardi untuk  ketemu di sekolah. “Ya sudah, Saya buat laporan saja. Data yang Saya punya tidak usah ketemupun sudah bisa jadi laporan. Ok Saya tunggu njenengan maunya apa. Ketemu di Sekretariat AWDI saja Pak di Widuri”, jawaban Sunardi membalas pesan SMS tersebut.

Sebelum berangkat ke widuri, Kepala Sekolah SMK 1 Randudongkal menuju ke Polres Pemalang terlebih dahulu untuk melapor karena akan bertemu dengan tim Sunardi CS dengan membawa uang sebesar 30 jt sesuai permintaan yang telah disepakati. Saat itu uang sudah diserahkan ke Sunardi dan Sutrisno yang ada di lantai 2 di Sekretariat AWDI Jateng, dan 3 orang berada di bawah.

Alasan Saya mau memberi 30 jt kepada mereka, karena Saya sendiri takut dan khawatir akan dilaporkan ke Polres. Ditunjukkan juga SK dan kartu identitas mereka saat melakukan klarifikasi dengan Saya. Sutrisno sendiri juga ikut menerangkan yang intinya tentang masalah uang kemitraan ini.

Selanjutnya saksi dari Kepala SMK PGRI 1 Taman, menyampaikan bahwa Saya merasa diperas oleh Sunardi lewat SMS-nya. Dari laporan wakil saya, ada 5 orang yang datang, dan mereka ingin minta klarifikasi dan data-data lain mengenai dana BOS. Mereka mengintimidasi dan ada unsur pemerasan. Wakil Saya di SMS yang isinya kami diminta segera waktu sampai batas Ashar kami akan melapor. Kami coba menanyakan terlebih dahulu dengan pak Karso selaku Kepala Sekolah SMK PGRI 2 Taman – Pemalang masalah ini. Dan dia menyampaikan kalau dia juga dimintai uang sebesar 50 juta dan Pak Karso sendiri sudah memberi.

Karena pada saat itu keadaan Saya sedang sakit, daripada makan pikiran Saya minta pada pak Karso untuk dibantu. Akhirnya Saya pun menitipkan sejumlah uang 30 juta kepada pak Karso untuk disampaikan kepada tim Sunardi CS.

Dalam hal ini juga diberikan bukti tanda terima berupa kuitansi yang isinya adalah sebagai kemitraan senilai 30 juta rupiah.

Dari saksi ketiga, Karso selaku Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Taman menyampaikan bahwa ada  5 orang datang ke sekolah pada hari Rabu, 21 Nov’ 2018 jam 10.00 WIB. Sunardi memperkenalkan diri bahwa dia dari Tipikor pusat. Dia meminta untuk kemitraan agar dipermudah dan seperti di SMK Nusantara Comal. “Ini sudah ada satu Sekolah SMK ditangan, kalau Njenengan tidak mau bekerjasama ya sudah, maka besok njenengan akan segera menyusul”, ucap Sunardi.

Saya dipepet dan diancam. Mereka meminta uang sebesar 50 juta.

“Gini, Saya minta waktu 1 minggu untuk mencari uang. Tapi Saya tidak diberi waktu. Saya benar-benar merasa takut dan bingung. Saya pun keluar dan mereka bersikukuh untuk melaporkan. Saya pinjam uang dan dikasihkan ke Sunardi dengan diberikan bukti kwitansi. Salah satu dari mereka akan mengambil foto Saya, tapi karena Saya tidak berkenan akhirnya tidak jadi mengambil foto. Setelah selesai, merekapun pergi bersama menggunakan mobil Terios warna putih.

Saksi ke empat (SMK 1 Satya Praja Petarukan) dan kelima (SMK Nusantara Comal) pun menyampaikan hal yang serupa seperti saksi-saksi sebelumnya. Intinya mereka ditekan dengan masalah dugaan penyelewengan dana BOS yang akan dilaporkan ke Polres. Mereka juga merasa bingung dan ketakutan dengan adanya tekanan tersebut.

Dari hasil pernyataan kelima saksi, hakim ketua menanyakan kepada tiap terdakwa. Dari masing-masing terdakwa itu pun menyampaikan keberatannya yang dianggap kurang sesuai. Dari terdakwa pertama Sunardi yang awalnya mengajukan keberatan, namun menurut Hakim Ketua dianggap melebar kemana-mana, diambil titik poinnya, bahwa mengakui atau tidak seperti apa yang disampaikan para saksi? Jawabannya adalah “Ya”. Sudah titik.

Terdakwa kedua Sutrisno merasa keberatan, dia merasa kalau dirinya tidak tahu menahu permasalahan uang kemitraan tersebut. Dia mengaku hanya sebagai penyuguh tamu karena berada di kantornya.
Terdakwa Nawang Elin juga merasa keberatan, dia menyampaikan bahwa dia hanya sebatas diajak untuk memberitakan mengenai permasalahan ini.

Sedang 2 terdakwa lainnya (Riyanto dan Aris Hadi) sudah merasa cukup dan tidak merasa keberatan dengan apa yang telah disampaikan oleh para saksi. Sidang pun sementara ditutup dan menunggu persidangan berikutnya. *** (Hnd/Umr)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: