-->

Iklan

Gaya Hidup

POLRI Tingkatkan Kewaspadaan di Masa Pandemi Covid-19

Rabu, 01 Juli 2020, 16:59 WIB Last Updated 2020-07-01T09:59:34Z

Bandung Barat - Polri berkewajiban terus memberikan informasi pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) secara lengkap, cepat dan tepat kepada masyarakat agar situasi dan kondisi keamanan di tengah pandemi ini bisa terus terjaga.

Pernyataan tersebut disampaikan Dirbintibmas Korbinmas Baharkam Polri, Brigjen Pol Tajudin mewakili Kakorbinmas Baharkam Polri, Irjen Pol Risyapudin Nursin dalam Webinar Sespimma Polri angkatan 63 bertema Manajerial Kepemimpinan Tingkat Pertama di Era 4.0 guna Antisipasi Gangguan Kamtibmas Dampak Covid-19 Dalam Rangka Pembangunan Daerah di Sespimma Polri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (30/6/20).

"Pimpinan Polri tidak henti-hentinya memberikan arahan mulai dari tingkat mabes hingga polsek agar melaksanakan imbauan protokol kesehatan kepada masyarakat agar tercipta kamtibmas," katanya.

Di masa pandemi ini, Polri memiliki tugas dan prioritas dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat dari bahaya penyebaran Covid-19. Sesuai perintah presiden, Polri dan TNI diharapkan bisa berjalan bersama dalam mempercepat penanganan pandemi ini.

"Beliau (Kapolri) keluarkan maklumat kepada seluruh anggota agar pimpinan di wilayah mampu menjabarkan kondisi kamtibmas di saat pandemi dengan mengedepankan kearifan lokal," ucapnya.

Narasumber lainnya, Wakil Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi menyampaikan, pandemi Covid-19 sedikitnya telah menewaskan 989 tenaga kesehatan di seluruh dunia, atau tingkat kematian 0,37 persen dari total kasus. Sedangkan di Indonesia, sebanyak 55 orang tenaga kesehatan meninggal akibat terpapar Covid-19.

"Tingkat kematian tenaga kesehatan Indonesia mencapai 6,5 persen. Artinya, tiap 100 kematian ada sekitar 6-7 tenaga kesehatan yang meninggal dunia," terangnya.

Adib menyebutkan, sebaliknya di negara Amerika Serikat (AS) dan Inggris justru persentase kematian tenaga kesehatan jauh di bawah Indonesia yakni 1 persen. Padahal kedua negara tersebut memiliki jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 yang lebih besar dibanding Indonesia, yakni AS dengan 1,5 juta kasus dan Inggris dengan 233,2 ribu kasus.

Menurut dia, pandemi Covid-19 merupakan bencana terbesar dalam sejarah umat manusia karena daya sebar virus ini sangat cepat. Masyarakat diimbau bisa melakukan pencegahan penularan karena sampai saat ini belum ditemukan obat atau vaksin untuk membunuh virus tersebut.

"Hadirnya virus korona menyebabkan berbagai masalah seperti adanya krisis kesehatan, ekonomi, politik, dan sosial," katanya.

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil yang juga menjadi narasumber mengatakan, pihaknya sudah berhasil menekan penyebaran Covid-19. Pada awal-awal pandemi, Jabar masih menduduki peringkat kedua provinsi dengan kasus Covid-19 terbanyak di Indonesia setelah DKI Jakarta, tetapi kini bisa turun di peringkat kelima.

"Sebelum PSBB Jabar, tingkat pertumbuhan infeksinya sangat tinggi. Tadinya kami diurutan 2 dalam urusan kasus di Indonesia, sekarang 5 atau 6. Jatim di bulan Mei sudah menyusul, bulan Juni Sulsel menyusul juga, Jeteng juga menyusul Jabar," beber Emil.

Pihaknya mengapresiasi kerja keras Polri dan TNI, khususnya Polda Jabar yang berhasil dalam penanganan Covid-19 versi Kapolri. "Dari 5 kategori penanggulangan Covid, Polda Jabar itu masuk juara 1, rangking 1," lanjutnya.

Sedangkan Rektor Universitas Bhayangkara Jakarta Raya ( Ubhara Jaya), Irjen Pol (Purn) Dr. Drs. Bambang Karsono berpendapat, bahwa berkaitan dengan pemberlakuan new normal di saat pandemi sekarang,  pembatasan sosial mampu mencegah penyebaran virus korona.

"Harus tetap taat protokol kesehatan, jaga kebersihan. Boleh berinteraksi tapi tetap menjaga jarak, cuci tangan," jelasnya. (DSt)
Komentar

Tampilkan

Terkini